> Mengintip Dunia Prostitusi di Daerah Aceh (1) - Warta Fakta

Breaking News

Mengintip Dunia Prostitusi di Daerah Aceh (1)

Provinsi Aceh adalah satu-satunya wilayah di Indonesia yang menerapkan hukum Syariat Islam. Penerapan hukum Syariat Islam itu tak lepas dari akar sejarah Aceh yang dikenal dengan sebutan Serambi Mekkah. Meski ada hukum Syariat Islam, bukan berarti Aceh terbebas dari aneka tindak kejahatan, termasuk perbuatan asusila. Bahkan, kehidupan prostitusi di Aceh sudah ada sejak dulu kala. Sedang di era digital ini, Aceh juga tak lepas dari aktivitas prostitusi online. Seperti apakah kehidupan prostitusi di Aceh? Berikut penelusuran Kibarkini.com.


Sejarah Prostitusi di Aceh
Meski dikenal sebagai daerah Serambi Mekkah, Aceh juga punya daerah prostitusi yang muncul sejak era kerajaan ratusan tahun lalu. Daerah prostitusi yang pernah tumbuh di Aceh pada era kerajaan dulu dikenal dengan sebutan Kampung Biduen (kampung pelacuran) di Lampulo, Banda Aceh.

Sejarawan Aceh, Muhammad Yunus Jamil, pernah menukil masalah prostitusi Aceh ini dalam buku berjudul “Gerak Kebangkitan Aceh”. Dalam buku itu, Yunus menuturkan bahwa di sebelah timur daratan Pantai Kuala Aceh, dulunya daerah perdagangan dan banyak bangsa asing (dari Eropa, India, Cina, Arab) menetap di sana. Di tempat itulah banyak terdapat loji-loji bangsa asing. Di situ juga ada Kampong Bidook, juga disebut Kampung Biduen (kampung pelacuran). Saat itu, selain warga Aceh, banyak orang orang seperti orang Tionghoa serta orang asing (bukan Eropa) yang menetap di sana (Yunus Jamil:1975).

Namun, komplek pelacuran itu akhirnya hilang setelah Syeikh Abdur Rauf Al Fansuri Asshingkili mendarat di Pantai Kuala Aceh. Sebelum dikenal sebagai Syaikh Abdur Rauf, ulama yang sangat disegani ini telah menyelami keadaan sosial budaya masyarakat Aceh waktu itu. Diceritakan, setelah menjalani pengembaraannya di Arab selama 19 tahun, Syeikh Abdur Rauf pulang ke Aceh dan menyamar sebagai seorang pawang dan menetap di kampung Bidook (Biduen). Atas seizin pada Panglima Laot kerajaan Aceh, Syeikh Abdur Rauf bisa menetap di Kampung Biduen.

Di komplek pelacuran tersebut, Syeikh Abdur Rauf bukan hanya membasmi praktek pelacuran, tapi  juga mendirikan pusat pendidikan dan pengembangan Islam. Model dakwah Syeikh rupanya sangat manjur karena mampu mengobati berbagai penyakit yang diderita oleh masyarakat. Kemampuan ini tentu saja menjadi buah bibir mulai dari masyarakat kecil hingga ke istana. Selain itu, dia juga dikenal sebagai pawang yang selalu mendapat tangkapan ikan selalu sangat banyak. Kepiawaan dalam melaut ini banyak menarik perhatian penduduk kampung yang didominasi oleh orang asing (Yunus Jamil:1975).

Akhirnya, nama Syeikh Abdur Rauf jadi terkenal sebagai seorang pawang yang alim dan juga sebagai tabib yang mujarab. Dia mampu mengubah kampung Biduen sebagai tempat pelacuran menjadi pusat thariqat shatariah. Disebutkan bahwa masyarakat sekitar mengikutinya karena kemampuan lahir dan batin. Untuk mengubah komplek pelacuran dia memadukan kekuatan dunia dan batini. Dari aspek duniawi, dia memperlihatkan bagaimana seorang ulama yang ingin mencari rezeki yang halal, tanpa menadah tangan ke atas. Sedangkan dalam nuansa kebatinan dia mampu memperlihatkan bagaimana peran tarekat di dalam membasmi maksiat.

Ketenarannya itu membuat Syeikh Abdur Rauf diundang ke Istana Darud Donya oleh Sultanah Ratu Safiatuddinsyah (1641-1675). Dalam pertemuan tersebut Syeikh Abdur Rauf memperkenalkan diri bahwa selama ini dia menyamar sebagai nelayan dan tabib untuk memperbaiki kerusakan akhlak generasi Aceh. Dia menuturkan bahwa perhatian Sultanah Safiatuddin Syah terhadap persoalan ini sangat minim. Karena itu pula kemudian Syeikh Abdurrauf diangkat menjadi Waliul Amri dan Mufti kerajaan Aceh sampai beliau wafat pada malam Senin, 23 Syawwal 1106 H/1695M (Wan Mohd. Shaghir Abdullah:2008).

Kecerdikan Syeikh Abdur Rauf dipercaya mampu mengubah Kampung Bideun jadi bersih dari pelacuran. Keberhasilannya memberantas maksiat itu ternyata bukan dengan paksaan, tapi dengan sikap dan tindakan yang lemah-lembut. Syeikh Abdur Rauf  terjun langsung ke lapangan dengan tinggal bersama mereka, tidak membuat jarak atau memusuhi mereka yang aktif dalam dunia pelacuran. Tidak ada sikap anarkis yang diperlihatkan oleh Abdur Rauf, namun tindakannya mampu mengubah kampung prostitusi menjadi kampung yang Islami.

Sayangnya, tokoh sehebat Syeikh Abdur Rauf itu kini seperti sulit dijumpai di Aceh. Sementara perubahan zaman dan dinamikan politik dunia bergerak cepat. Celakanya, isu pelacuran di Aceh rupanya tetap berkembang diam-diam, dari kasak-kusuk dan bisik-bisik. Dalam kasak-kusuk pula, di era modern ini, ternyata ada Kampung Bideun lain yang tumbuh di Aceh. Kalau tidak percaya, terlusurIlah ke daerah Gampong Peunayong atau aplikasi media sosial Whatsapp, facebook dan twitter. Di balik kecanggihan media sosial itu, kini terdapat transaksi prostitusi di Aceh (Bersambung)

BACA JUGA: Mengintip Dunia Prostitusi di Daerah Aceh (2): Dari Simpanan Pejabat hingga Gigolo

No comments