> Pengamat Intelijen: Jangan Pernah Remehkan Kekuatan Novel Fiksi - Warta Fakta

Breaking News

Pengamat Intelijen: Jangan Pernah Remehkan Kekuatan Novel Fiksi


JAKARTA - Pengamat Bidang Pertahanan dan Intelijen, Dr. Susaningtyas N.H. Kertopati, mengatakan, segala kemungkinan yang terjadi di Indonesia di masa datang, wajib dihadapi dengan kewaspadaan, bukan dengan pesimisme. Sedang strategi jitu untuk membawa Indonesia hingga ke Tahun Emas 2045 adalah dengan menjaga persatuan dan kesatuan.

"Jangan pernah remehkan kekuatan sebuah novel fiksi. Apalagi jika ditulis oleh ahli matematika yang kreatif seperti penulis Ghost Fleet," tegas Susaningtyas saat ditanya Kibarkini.com terkait munculnya polemik predikisi bubarnya Indonesia 2030.

Menurut Susaningtyas, justru dengan adanya prakiraan keadaan tahun 2030 itu, maka kita harus segera lakukan restrukturisasi dalam segala bidang sebagai antisipasi. Kita harus waspada dalam menghadapi tantangan ke depan karena untuk eksis di dunia akan jauh lebih berat lagi bagi Indonesia.

Tantangan mungkin timbul antara lain adalah krisis pangan, krisis energi, krisis ekonomi, krisis demografi, perubahan iklim, pelambatan pertumbuhan ekonomi, fluktuasi ekstrim harga minyak, turbulensi politik dan instabilitas kawasan, failing/failed dan rogue state, insurgensi dan terorisme, polarisasi hagemoni dunia, dan dimulainya era digitalisasi adalah sedikit dari banyak masalah kontemporer yang menimbulkan ketidakpastian di tingkat nasional, regional, dan global.

Karena itu, lanjut Susaningtyas, penyiapan kemampuan SDM terdidik dan terlatih sangat penting. "Wajar bila kita lakukan forecasting terhadap masa depan negara, karena kita bisa ‘ancang-ancang' mau dibawa kemana negara ini," jelasnya.

Dari perspektif ilmu pertahanan, maka ancaman di masa mendatang baik yang faktual maupun potensial dapat dibedakan menurut bentuk dan sifatnya. Menurut bentuknya, maka ada ancaman militer dan ancaman non militer. Menurut sifatnya, maka ada ancaman militer itu sendiri dan ancaman nir militer.

Kompleksitas bentuk dan sifat ancaman menuntut Bangsa Indonesia menyusun strategi hybrid untuk mengantisipasinya. Kita harus mampu berimajinasi membayangkan Indonesia di tahun 2030, sehingga mampu menuangkan strategi yang yang kreatif dan inovatif. "Sebagai contoh imajinasi para penulis Ghost Fleet dalam novel fiksinya. Para penulis membayangkan ada perang dunia di masa mendatang dengan skenario ada kelompok negara yang menang dan ada kelompok negara yang kalah," paparnya.

Dari tinjauan matematika, kita bisa telaah kedua skenario tersebut merupakan hasil ekstrapolasi menggunakan kombinasi metode projection, forecasting dan foreseen. Seluruh negara di dunia di-ekstrapolasikan di masa mendatang dari kondisinya saat ini.

Melalui simulasi program komputer, maka hasil akhir kondisi setiap negara dapat dengan mudah diketahui dengan logika. Oleh karenanya strategi hybrida untuk menghadapinya bisa juga menggunakan metode yang sama. "Solusinya kita harus bisa merumuskan formulasi strategi hybrida dengan membuat simulasi nasional setiap gatra di dalam Ketahanan Nasional."

Semua sumberdaya nasional baik SDM, SDA dan sumberdaya buatan dapat dianalisa dan disimulasikan secara kuantitatif sehingga dapat diketahui faktor negatif apa yang harus diantisipasi di masa mendatang. Ini penting dilakukan karena seringkali faktor-faktor negatif suatu bangsa adalah hidden factor.

Disebutkan, secara internal Bangsa Indonesia memiliki kerentanan konflik yang bersumber dari SARA. Dengan metode ilmiah yang tadi dijelaskan, maka salah satu strategi hybrida adalah menyelesaikan secara tuntas akar masalah konflik-konflik yang sekarang masih merebak. "Bangsa Indonesia harus bisa memperkokoh persatuan dan kesatuan. Persatuan seluruh suku bangsa Indonesia dan kesatuan wilayah seluruh pulau dan lautan Indonesia," jelasnya.

Strategi tersebut juga didukung data dan fakta sejarah bagaimana negara-negara besar saat ini bisa menjadi negara yang maju dan sejahtera setelah tercapai konsensus nasional menyelesaikan akar masalah konflik internal mereka. Setelah itu setiap generasi berikutnya dapat memegang teguh konsensus nasional tersebut untuk selamanya.@

No comments