Pengamat : Media Massa Harus Belajar dari Peristiwa Mumbai 2008 dalam Peliputan Terorisme
![]() |
| Stanislaus Riyanta |
JAKARTA - Pengamat Terorisme, Stanislaus Riyanta, punya masukan bagus untuk kalangan jurnalis yang sedang meliput insiden penyandraan yang dilakukan para napi terorisme di Rumah Tahanan Mako Brimob Kelapa Dua, Depok, Jawa Barat. Mahasiswa Doktoral bidang Kebijakan Publik Fakultas Ilmu Administrasi Universitas Indonesia itu mengatakan, media massa harus bersikap cerdas dalam melakukan peliputan.
"Mengejar kecepatan dan rating semata tapi mengorbankan keselamatan orang lain merupakan hal yang tidak tepat bagi media massa," kata Stanislaus Riyanta.
Karena itu, Stanislaus Riyanta memberikan masukan bahwa dalam pemberitaan tentang terorisme, media massa di Indonesia dapat belajar dari peristiwa Mumbai 2008 di Hotel Taj Mahal. Disebutkan, sejumlah teroris yang berada di Hotel Taj Mahal, ketika pihak keamanan mengepung pasca pengeboman, memanfaatkan informasi dari media massa yang menyiarkan secara langsung peristiwa tersebut. "Kemudian, teroris menyerang balik pasukan keamanan yang mengepungnya dengan mudah karena informasi lengkap dari media massa. Akhirnya belasan aparat tewas," ungkap Stanislaus Riyanta.
Menurut Stanislaus Riyanta. karena tuntutan kebutuhan pemberitaan media massa bisa memuat berita lain di luar hal-hal teknis dan strategi yang dilakukan oleh aparat keamanan. "Banyak sisi yang bisa dimuat tanpa khawatir kehilangan rating. Selain tidak menampilkan sisi teknis dan strategi yang dilakukan aparat, media massa diharapkan tetap untuk menumbukan rasa nasionalisme dan pluralisme, menjunjung tinggi kebhinekaan sebagai salah satu kekuatan bangsa, dan tidak menanamkan kebencian terhadap kelompok tertentu atau terlalu memuji-muji kelompok tertentu."
Dalam konteks rusuh Mako Brimob, Stanislaus Riyanta berharap, media massa harus paham sekaligus memberikan pemahaman kepada masyarakat bahwa karena pertimbangan keselamatan orang banyak dan dampak jangka panjang, maka masyarakat harus sabar dan menghargai apa yang dilakukan oleh petugas yang menangani kasus. "Jangan sampai apa yang dilakukan petugas terekspos media massa dan terpantau dengan jelas oleh napiter di dalam Mako Brimob," tambahnya.

No comments