Jalan Teguh Mencapai Cita-cita Nasional Tanpa Penjajahan Gaya Baru
JAKARTA - Menjelang peringatan hari kemerdekaan, sebuah Rapat Akbar akan digelar di Tugu Proklamasi pada tanggal 7-8 Agustus 2018 nanti. Rapat Akbar tersebut akan mengangkat tema "Jalan Teguh Mencapai Cita-Cita Nasional Tanpa Penjajahan Gaya Baru".
"Rapat Akbar tersebut akan melibatkan organisasi-organisasi kerakyatan yang ada di tiap-tiap daerah di Indonesia, yang masih konsen atas situasi-situasi lokal maupun nasional," kata Satyo Purwanto, selaku SC Rapat Akbar Bersatu Untuk Indonesia, saat konfrensi pers.
Disebutkan, berbagai elemen sektoral akan hadir seperti: petani, nelayan, buruh, mahasiswa, pemuda juga organisasi profesi seperti pekerja kesehatan, pendidikan, konstruksi, driver online juga ojek online dll, juga elemen-elemen kritis lainnya adalah satu kekuatan besar yang akan mewarnai isi dari Rapat Akbar.
Satyo Purwanto mengatakan, ketahanan nasional yang semakin hari semakin lemah menjadi fokus perhatian yang tidak dapat diabaikan. Lemahnya Ketahanan Nasional berpengaruh terhadap sistim berbangsa dan bernegara. "Tersistematis dan terorganisir sistem Indonesia dilemahkan paska Amandemen UUD 1945. Jati diri Indonesia sebagai sebuah bangsa nyaris hilang bahkan dipertanyakan", katanya.
Menurut Satyo Purwanto, lahirnya puluhan UU semakin menjauhkan cita-cita nasional yang tertuang dalam Pembukaan UUD 1945, bukan hanya itu UU tersebut juga secara sistemik melemahkan aspek ideologi, politik, ekonomi, budaya, hukum serta pertahanan keamanan. Proses tersebut telah menghantarkan krisis kewibawaan lembaga negara yang menghancurkan sendi-sendi persatuan nasional.
"Dampak ini telah memunculkan problematika yang kemudian dihadirkan dalam meluluh lantahkan persatuan nasional adalah dengan menciptakan suatu fragmentasi yang kasat mata, pembelahan yang kemudian memposisikan setiap orang di negeri ini terpaksa untuk memilih, mendukung atau menentang pemerintah yang berkuasa, dengan alasan demi Indonesia. Tapi keadaan sosial Indonesia tak berubah lebih baik, malah kita mengalami kemunduran sebagai sebuah bangsa."
Disebutkan, ruang-ruang publik diisi oleh caci maki, kedengkian dan penuh amarah antar anak bangsa. Untuk dapat keluar dari framing tersebut maka harus dibentuk sebuah tata kelola berpikir yang lebih obyektif sehingga kemudian setiap orang akan memiliki referensi dan panduan kebangsaan yang cukup baik dalam menyikapi kebijakan-kebijakan pemerintah.
"Rapat Akbar Bersatu Untuk Indonesia adalah langkah konsolidasi untuk menghadapi keadaan dan situasi bangsa yang akan berkembang mengarah pada kelemahan kedaulatan rakyat terhadap sistem yang sudah pada titik rasa Liberalistik," jelasnya.
Bersatu Untuk Indonesia.
Menurut Satyo Purwanto,,elemen-elemen peserta Rapat Akbar akan melakukan Focus Group Diskusi di wilayahnya. FGD adalah tolak ukur dan menjadi arah isi dari lahirnya sikap RA Bersatu Untuk Indonesia maka lintas komponen dan lintas generasi menjadi kekuatan dasar terkonsolidasinya Rapat Akbar.
"Ancaman geo-politik dan geo-ekonomi terhadap kedaulatan bangsa hari ini menjadi masalah
yang sangat serius. Untuk menghadapi setiap gerak infiltrasi kekuatan tersebut diperlukan sebuah standar koreksi yang bukan hanya dapat dipertanggungjawabkan secara politik, moral maupun juga harus dapat memenuhi aspek akademis."




No comments