Pengamat: Jika Prabowo Pilih AHY, Jokowi Bisa Jadi Pilih Wiranto
JAKARTA - Ketua Dewan Pengawas Lembaga Penelitian Pendidikan Penerapan Ekonomi dan Sosial Rustam Ibrahim memprediksi jika nanti Prabowo Subianto memilih Agus Harimurti Yudhoyono menjadi pasangan calon wakil presiden, Joko Widodo bisa saja memilih pasangan berlatarbelakang militer.
"Jika ternyata Prabowo Subianto nanti berpasangan dengan AHY, yang dua-duanya mantan militer, bisa saja Presiden @jokowi memilih cawapres dari jenderal purnawiran senior seperi Wiranto, dan Moeldoko bisa saja menjadi Menkopolhukam," kata Rustam Ibrahim melalui akun Twitter @RustamIbrahim.
Baik kubu Prabowo Subianto maupun Jokowi sampai sekarang belum mengumumkan siapa sosok yang bakal menjadi calon wakil presiden mereka. Proses penggodokan dan pertemuan-pertemuan politik untuk membangun koalisi sekarang sedang berlangsung, baik yang terpublikasi maupun tertutup.
Sebelumnya, Rustam Ibrahim memprediksi Joko Widodo tidak akan memilih calon wakil presiden berlatar belakang ketua partai atau tokoh non partai yang kini promosi kemana-mana agar dipilih Jokowi. Alasannya, kata Rustam Ibrahim, untuk memastikan kerjasama yang harmonis antara partai-partai pendukung.
Menurut Rustam Ibrahim, Jokowi akan memilih tokoh senior yang dapat membantunya menghadapi ancaman-ancaman terhadap bangsa dan negara, karena isu-isu SARA, fitnah, dan kebencian bisa saja dimainkan lawan politik. "Pilihan Jokowi bisa saja seorang ulama senior yang moderat dan terkemuka, atau purnawirawan TNI yang juga senior," katanya.
Wakil Sekretaris Jenderal Partai Demokrat Rachland Nashidik menilai orang-orang di PDI Perjuangan dan Istana terus-menerus menebar fitnah pada partainya, seolah menawarkan Agus Harimurti Yudhoyono menjadi calon wakil presiden untuk mendampingi Joko Widodo di pemilu periode 2019-2024.
"Itu bohong. Apa boleh buat, kami akan melawan fitnah itu dengan berjuang di sisi rakyat yang jera dengan pemerintahan mereka yang tak segan berdusta," kata Rachlan Nashidik melalui akun Twitter @RachlanNashidik.
Rachland Nashidik menurut Jokowi segera mengumumkan siapa calon wakil presiden yang akan mendampinginya agar Demokrat mengetahui kapabilitasnya. "Kami mau Jokowi umumkan segera siapa cawapresnya. Agar kami tahu dia orang yang kapabel. Bisa isi kekurangan-kekurangan Presiden. Bila figurnya tepat, bukan mustahil kami mendukung. Kalau sikap ini ditafsir seolah kami mau AHY cawapres, kesalahan bukan tanggungjawab kami," kata dia.
Rachland Nashidik menegaskan karena sudah tidak bisa berkoalisi, Partai Demokrat akan berjuang bersama Partai Gerindra, PAN, dan PKS. "Takdir politik sudah bicara. Jalan tertutup bagi kami pada Jokowi. Dia sendiri, dan orang-orang di sekelilingnya, yang menutup. Kami akan berjuang sekeras-kerasnya, sebaik-baiknya, bagi pemimpin baru Indonesia dalam pemilu 2019. Bersama Gerindra, PAN dan PKS. Mohon restu," kata dia.
Rachland Nashidik mengatakan Partai Demokrat adalah rumah bagi orang-orang moderat. "Tapi Jokowi dan orang-orang di sekelilingnya membuat kami terpaksa mengambil sikap keras. Kini Demokrat adalah shelter bagi mereka yang mau ganti Presiden pada 2019. Tiba masa Indonesia memiliki pemimpin baru," kata Rachland Nashidik.
"Saya mau ganti Presiden! Kalau demi itu saya harus bekerja sama dengan setan, saya akan lakukan. Apalagi cuma kerjasama dengan Prabowo," kata Rachland Nashidik. "Pilihannya cuma berkuda atau naik sepeda. Saya pilih berkuda."
Ketua Umum PPP M. Romahurmuziy memastikan informasi tentang Susilo Bambang Yudhoyono yang mengajukan Agus Harimurti Yudhoyono sebagai calon wakil presiden kepada Joko Widodo merupakan informasi A1 atau tepercaya. "Saya tidak menyampaikan info sembarangan tentang diajukannya AHY sebagai cawapres kepada Pak Jokowi. Informasi tersebut berkategori A1," kata Rommahurmuziy sebagaimana dikutip AKURAT.CO dari Antara.
Menurut dia pengajuan Agus Harimurti Yudhoyono sebagai cawapres adalah hal yang wajar, tidak merupakan keinginan yang berlebihan dan juga bukan merupakan hal yang rahasia, sebagaimana partai lain dalam koalisi Jokowi yang juga mengajukan nama-nama yang diinginkan.
"Ketika PPP ditanya soal cawapres, kami juga menyampaikan nama. Hanya bedanya, yang disampaikan PPP ada sejumlah nama dan statusnya untuk dibahas atau didiskusikan, bukan merupakan target tunggal," kata Romahurmuziy.
"Nah, apakah itu yang dimaksud SBY sebagai 'hambatan dan rintangan', ketika diwawancarai salah satu stasiun televisi swasta saya menjawab 'mungkin saja'," tambah Romahurmuziy.
Menurut Romahurmuziy cara mengajukan nama cawapres yang berbeda-beda antara satu partai dengan lainnya itu hanya soal cara berkomunikasi.
"Ada yang terang-terangan menyebut cawapres, ada yang setiap bertemu mengingatkan hasil survei yang tinggi, ada yang menggunakan 'interest group' untuk menyampaikan, atau ada cara lain lagi. Silakan saja, ini kan kontestasi," ujarnya.
Romahurmuziy mengaku menerima informasi ada sejumlah pertemuan Jokowi dan SBY tahun ini. Pertemuan terakhir SBY terjadi Ramadhan lalu.
"Juga sudah menyepakati pos kabinet untuk AHY sebagai bagian dari rencana koalisi. Namun, jika hari-hari ini SBY berubah, itu juga tidak diharamkan dalam politik karena politik itu dinamis," katanya. []

No comments